AMBON |BERGERAK
Bukan organisasi masyarakat |
bukan partai politik |
bukan alat kepentingan perseorangan atau kapital |
bukan geng atau mafia |
bukan cult relegius atau Magis |
bukan nama band atau kelompok paduan suara |
bukan konsultan atau kontraktor |
bukan nama pacar atau toko jualan mesin |
ambon|bergerak adalah sebuah payung, adalah sebuah semangat, adalah sebuah BRAND TAG LINE untuk menegaskan keinginan ANAK MUDA dan GENERASI BARU semua elemen masyarakat kota ini untuk memajukan dirinya secara positif dan kreatif yang pada gilirannya akan juga memajukan kota ini.
ambon|bergerak adalah ide untuk mensinergikan, mengoptimalkan semua potensi AKTIF, KREATIF, INTELEKTUAL dan yang terutama potensi PEDULI semua ELEMEN masyarakat kota (terutama Anak Muda) dalam sebuah semangat gerakan melihat dan menyelesaikan persoalan diri dan lingkungannya, pertama-tama dengan mengenali potensi dan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah itu secara bersama-sama. UNTUK ITU KITA PERLU PERCAYA KITA BISA DAN MAMPU !
ambon|bergerak adalah bahasa nurani generasi baru kota ini yang dengan berani dan tegas menolak menjadi MANJA, menolak menjadi PENGGERUTU yang hanya bisa memprovokasi and then not do anything. Pendeknya GENERASI AMBON BERGERAK adalah generasi yang menolak untuk menjadi generasi NATO ( no action talk only)
ambon|bergerak UTAMANYA SELITERAL KATA ” AMBON BERGERAK ” ITU SENDIRI ” ADALAH TENTANG GERAKAN, TENTANG MAJU KEDEPAN, TENTANG TIDAK TETAP DIAM, TENTANG MENOLAK UNTUK MONOTON, MENGENAI KREATIF, AKTIF DINAMIS DAN GELISAH KETIKA MELIHAT APATISME.
ambon|bergerak adalah ajakan untuk BERGERAK dengan KREATIFITAS DAN KEPEDULIAN.
Maka mari sama-sama bergerak !
Majukan diri, kalesang diri deng kota.
Tommaa !
Angka Palungku par musik (*band) di Ambon !
By iphank dewe on 09.51
Angka palungku par musik (*band) di Ambon, begitu kata-kata ian, vokalis expo yang tampil pada gelaran Sprite d plong di lapangan merdeka ambon. Lebih dari separuhcrowdyang ada didepan panggung lantas mengepalkan tangan kanannya ke udara menerima ajakan itu. momen itu menurut saya penting dalam pergerakan musik di kota ini.
Ian tidak sedang mengkampanyekan perlawanan terhadap penguasa, juga tidak sedang berusaha mengangkat stigma separatisme. Ian sang vokalis panggung terbaik dari band yang dianggap sebagai local hero itu dengan kepalan tangannya yang mengacung tegas ke udara sebenarnya sedang membagi harapannya dengan puluhan ribu pengunjung acara sprite d plong di lapangan merdeka. Ya, dia sedang membagi harapannya untuk kebangkitan musik (*band) di kota ini.
Kalimat diatas mungkin terkesan berlebihan untuk menggambarkan aksi panggung sebuah band lokal yang mungkin ga juga terlalu banyak dikenal diluar komunitas musik kota ini. Tapi percayalah bagi banyak anak band di kota ambon aksi ian semalam adalah sebuah tindakan penting. Penting, karena untuk pertama kalinya seorang musisi lokal muda kota ini menyampaikan secara langsung keresahannya tentang kemajuan scene musik band Ambon sembari menghadirkan persoalan yang bernama apresiasi kepada penonton.
Apresiasi, dukungan ataupun susunan huruf latin yang berarti kurang lebih sama, percaya ga percaya, sesungguhnya memang menjadi semacam bagian kekecawaan tak tersampaikan dari anak band ambon kepada crowd acara musik yang menyaksikan penampilan musisi lokal muda kota ini. Seorang anak band dalam blognya (www.hardpapeda.blogspot.com) misalnya dengan menyesal menulis sikap crowd itu sebagai sikap patung yang menjengkelkan dan bahkan menghubungkannya dengan ketiadaan musisi lokal muda kota ini yang berhasil maju tidak melalui jalur cepat ajang pencarian bakat televisi.
Membaca tulisan itu dan menghubungkannya dengan peristiwa semalam kita mungkin bisa dengan mudah mengerti keunikan dari tindakan ian malam tadi yang mengacungkan kepalan tangan ke udara. Kita mungkin langsung bisa memahami tindakannya yang menghimbau tepuk tangan penonton, merubah repertoar dengan musik yang lebih gampang dicerna, meminta berulang kali penonton bernyanyi bersama hingga bahkan memotivasi dan bercerita tentang keberhasilan mereka sebagai satu-satunya band ambon yang pernah rekaman di musica studio.
Kita bisa langsung memahami sikap ian sebagai upaya yang jauh dari sikap berusaha sombong melainkan upaya tak kenal lelah untuk memotivasi dan memberi contoh pada crowd bagaimana menghargai musik dan membiarkan musik menguasai ekspressi apreasisi mereka. Baginya dengan begitu, crowd “ mungkin “ akan bisa lebih apresiatif terhadap performa dan eksistensi musisi (*band) lokal muda kota ini.
Ya, ternyata crowdpun memang perlu dididik untuk bisa mengapresiasi musik yang dimainkan performer diatas panggung.
Terlepas dari kualitas performer itu sendiri untuk bisa diapresiasi atau tidak oleh crowd, kualitas crowd sendiri ga bisa disangkal turut menentukan bagaimana mereka mengapresiasi musik yang dimainkan oleh sang performer. Penonton dan musisi yang refrensi musiknya berjarak terlalu jauh bagaimanapun memang akan menemui masalah dalam komunikasi bermusik.
Kita kemudian memang pantas bertanya apakah dengan demikian kualitas crowd kita relatif belum menjangkau kualitas bermusik musisi lokal muda kita. Apakah itu yang menyebabkan crowd kita cenderung tidak apresiatif terhadap penampilan dan eksistensi musisi lokal muda kota ini ?
Wendi putranto editor staf majalah musik terkemuka rolling stone indonesia yang kebetulan menjadi juri malam kemarin menyebut kalau “ dimana saja musisi memang selalu beberapa langkah lebih maju dari crowdnya dalam hal refrensi bermusik”. Maka itu komunikasi dan kompromi lantas menjadi cara menyeimbangkan kesenjangan antara musisi dan crowdnya. Tapi tentu bukan itu saja metodanya.
Diluar kompromi terhadap kesenjangan apresiasi kualitas crowd dan musisi (yang kalau berlebihan justru adalah musuh dalam selimut terhadap upaya membangun kualitas crowd itu sendiri) upaya lain yang berhubungan dengan frekuensi event musik, atau bahkan refrensi musik yang berasal dari kehadiran radio lokal berkualitas dan distribusi majalah musik yang konsisten terhadap perkembangan musik nasional dan juga musik lokal yang ada didaerah adalah juga penting meningkatkan kualitas apresiasi crowd kita terhadap musik.
Dan kalau itu semua tidak maka mau tidak mau, adalah tugas suci musisi lokal untuk mendidik crowdnya hingga crowd bisa mengapresiasi musik dan memberikan dukungannya.
Kurangnya penghargaan terhadap musisi lokal (*band) muda memang bukan persoalan spesial yang terjadi di kota ini saja. Banyak kota lain di Indonesia sebenarnya juga mengalami keresahan yang kurang lebih sama akibat menumpuknya pusat kapital industri musik dan kreatifitas di kota-kota besar saja. (*Pemusatan kapital musik itu pada akhirnya membuat semua anak daerah harus menuju ke kota besar untuk bisa maju dan memperoleh kemegahan. Maka, karena di jakartalah kemegahan itu bermula. Musisi lokal seringkali kurang mendapat tempat di kampung sendiri).
Namun itu tentu bukan alasan untuk menerima begitu saja keadaan dan membuat kita tetap berada dititik yang sama ketika kita bisa bergerak maju kalau kita mau. Apa yang ian himbau dan diangkatnya melalui simbol angka palungku par musik Ambon itu sebenarnya berasal dari keresahan seperti itu. Keresahan sederhana seorang musisi lokal muda yang mewakili banyak musisi lokal muda lain kota ini yang bersemangat, ingin maju dan tak akan menyerah.
Palungku (*kepalan tangan red) untuk kebangkitan musik lokal (*band) kota ini jelas adalah simbol agar musisi lokal dan masyarakat kota ini bisa saling mendukung. Itu saja caranya untuk maju. Lain tidak.
Angka palungku par musik (*band) di Ambon. Bergerak , Maju !
Bala bantuan dari Jakarta:
By iphank dewe on 09.49
A Note Grab from #indonesia unite activist Panji Pragiwaksono
Share Thursday, March 18, 2010 at 10:22am
Beberapa hari yang lalu, mungkin malah beberapa minggu yang lalu, gue jadi salah seorang peserta presentasi di IGNITE JAKARTA. Sebuah event dimana orang diminta untuk melakukan presentasi, 20 slide, masing masing slide secara otomatis akan maju dalam 15 detik. Jadi total 5 menit.
Its a bit tricky.
Ada beberapa orang yang presentasi, kebanyakan memang gue tidak lihat karena harus pergi untuk siaran, tapi menurut gue dari yang gue liat, yang paling inspiratif adalah presentasi dari @ramyaprajna Rama sebenarnya mungkin ingin menerangkan tentang apa itu IGNITE, tapi bersamaan dengan itu, dia juga cerita alasan kenapa dia dan perusahaannya think.web memutuskan untuk bikin acara itu.
Rama lalu cerita bahwa di dunia ini ada banyak sekali event yang digagas online. Twestival, Pecha Kucha, Ignite adalah beberapa diantaranya. Metodanya, sederhana sekali.Kurang lebihnya DIY atau Do It Yourself. Biasanya untuk setiap event, baik itu Twestival (festival pengguna twitter yg bertujuan amal) ataupun IGNITE ada sebuah situs pusat yang menerangkan
1. Apa acara itu sebenarnya
2. Teknis pelaksanaan acara itu
3. Bagaimana cara membuat acara itu di kota anda
Lalu mereka mempersilahkan apabila si pembaca mau bikin acara tersebut di kotanya masing masing, dengan mendaftarkan kotanya tsb ke situs pusat tadi. Lalu biasanya, di setiap situs situs itu, ada peta dunia dengan titik titik merah sebagai penanda bahwa kota tsb berencana/sudah membuat acara terkait. Twestival, IGNITE, PechaKucha, apapun.
Rama bercerita, bahwa diantara titik titik merah itu, tidak ada titik merah di Indonesia Semua benua ada titik merahnya, kecuali Indonesia. Bahkan, didalam slidenya ada sebuah peta dari situs seperti dimaksud diatas yang TIDAK ADA GAMBAR INDONESIAnya..Rama lalu punya misi kecil yang keren. Memasang sebuah titik merah di Indonesia utk event event tsb.
Tahun lalu, dia membuat Twestival Jakarta di FX dimana uangnya disumbangkan utk Desa Waikokak NTT. Ada Glenn Fredly, Sandhy Sundhoro, Barry Likumahuwa Project, Endah N Rhesa, Bandanaira, gue, dll…Tahun lalu, Indonesia masuk dalam peta twestival dunia.
Tahun ini, dia juga bikin IGNITE di Jakarta, Indonesia dan menambah titik merah dalam peta IGNITE dunia.Tujuannya sederhana, tapi misinya luarbiasa.Tujuan akhirnya adalah menghadirkan eksistensi INDONESIA dalam ajang ajang dunia.Mendekati akhir presentasi Rama, dia bilang, “Harusnya di Indonesia ada beberapa titik. Bukan di Jakarta aja.. Gampang kok”. Keren.
Kebanyakan orang, menunggu dibikinin acara.Tapi sebenarnya, mereka bisa bikin acara sendiri sendiri.Itulah sebenarnya semangat IndonesiaUnite. Semangat menciptakan perubahan.IndonesiaUnite itu bukan organisasi, bukan gerakan.IndonesiaUnite itu hanyalah sebuah semangat untuk menciptakan perubahan yang baik untuk Indonesia.
BERKARYA.TIDAK MENUNTUT, TIDAK MEMINTA.
Susahnya, Indonesia memang rada rada manja.Dibalik kerasnya orang orang demo di jalanan, sebenarnya mereka menunjukkan kemanjaan mereka.Kenapa orang demo dan bahkan anarkis disebut manja? Karena mereka Cuma bisa menuntut perubahan, tanpa mau menciptakan perubahan itu sendiri.
Teriak teriak “HOY PEMERINTAH! WUJUDKANLAH KESEJAHTERAAN UTK RAKYAT”
Padahal, mereka bisa menciptakannya itu sendiri. Kalau mereka mau usaha, mau berpikir, mau kerja keras. Tapi tidak.. mereka ga mau kerja, mereka mau orang lain yang mengerjakan. " Manja "
Kemanjaan itu tidak terasa, tapi ada.Waktu Java Jazz ramai di timeline orang orang di twitter, ada beberapa nada nada sumbang dari kota kota lain “Enak ya Jakarta dibikinin event kayak gitu… kota lain ga pernah… “ "Gue bereaksi kepada mereka dengan menjawab “Ya elo bikin dong sendiri…”
Jawaban mereka “Mana mungkin bisa ?”
Ya jelaslah ga bisa, wong elonya sendiri ga percaya kalau elo bisa.
Ada yang bilang “Mana bisa kita bikin sebesar JJF?”
Jawaban gue “Ya Java Festival Production, yang mengerjakan JJF juga dulunya memulai dari sesuatu yang keciiiiiil”. Jangan tiba tiba ingin bisa bikin event yang besar. Mulailah dari yang kecil. Maunya instan instan aja siiiih… Kalau elo mau bisa bikin event gede, MULAI dari sekarang.
Starting, is everything. Mulai aja dulu.
Elo akan gagal, elo akan belajar, dan kalau elo teguh, elo akan berusaha lagi, dan lagi… Teman gue @mainbasket berujar bahwa kemampuan orang orang di kota kota selain Jakarta tidak sehebat orang orang di Jakarta. Gue menyatakan tidak setuju. Kehebatan itu sangat relatif, mungkin di Jakarta orang orang hebat dalam bikin event Jazz, tapi hidup ini kan tidak hanya event jazz..
Buktinya Bandung bisa bikin festival clothing terbesar di Indonesia KICKS. Jakarta ga ada tuh kayak gitu.Buktinya anak anak di Laskar Pelangi, asli Belitung, beberapa bahkan tidak tahu apa itu bioskop bisa akting jauuuuuh lebih bagus daripada anak anak yang mengaku aktor dan aktris di Jakarta…
Buktinya Surabaya bisa bikin DBL dan DBL adalah satu satunya kompetisi di Indonesia yang didatangi NBA. Sementara DBL itu kelasnya SMA. Karena DBL, Surabaya kini pusatnya basket Indonesia. Tapi ada ucapan @mainbasket yang gue akui kebenarannya. Harusnya orang orang Jakarta (yang sebenarnya pendatang dari kota lain juga) yang sudah berprestasi dan berilmu, pulang ke daerah asalnya dan membangun. Atau setidaknya membagi ilmu. Seperti yang Glenn lakukan dengan pindah ke Ambon dan melihat Indonesia dari timur.
Masalahnyaaa, orang seperti Glenn yang sudah menemukan kemapanan dari muda itu sangat jaraaang. Gue takutnya, orang orang di daerah lain menunggu kedatangan saudaranya yang di Jakarta untuk membantu mereka. Sementara, saudaranya itu tidak datang datang. Dan kalau mereka hanya mengandalkan saudaranya yang di Jakarta, bisa bisa mereka tidak beranjak kemana mana.
Gue sudah keliling Indonesia, Mungkin gue sudah datang ke lebih banyak kota dari pada elo.Ada beberapa kota yang tingkat kelulusannya rendah. Orang setempat menjawab, banyak yang tidak mau melanjutkan kuliah karena menurut mereka, ilmu yang mereka dapatkan dari kuliah, tidak ada gunanya kalau tidak digunakan di Jakarta.
Sementara, mereka tidak punya uang untuk bisa ke Jakarta, atau tidak bisa meninggalkan orangtuanya yang sudah sepuh untuk ke Jakarta. Buat apa kuliah kalau saya hanya akan menghabiskan hidup saya disini.Maka mereka kemudian tidak melanjutkan kuliah. Bayangkan….
ANDAI saja mereka PERCAYA bahwa dengan ilmu mereka , mereka BISA melakukan sesuatu yang penting dan besar di daerah masing masing.ANDAI mereka PERCAYA bahwa mereka BISA berkarya di daerah masing masing.. bisa jadi mereka jadi kembali semangat untuk melanjutkan kuliah.Sesungguhnya, mereka memang bisa.
Tahun lalu ada AMBON JAZZFEST diselenggarakan untuk pertama kalinya.
Dari laporan orang orang yang manggung, katanya acaranya berantakan. Jadwal ga jelas, pembatalan mendadak, mati lampu, dll… Tapi dibalik semua itu, ada sebuah semangat untuk berusaha dan belajar, dan kalau mereka masih tinggi semangatnya, tahun ini mereka akan kembali.
Acungan jempol juga untuk mahasiswa IM TELKOM Bandung yang sempat semangat mengajak gue, Glenn dan Barry untuk menggelar Tour IndonesiaUnite. Sebuah usulan yang muncul dari tweetnya Glenn Fredly. Yang punya ide, entah kenapa tidak pernah ngomongin lagi… sibuk mungkin hehehe. Tapi anak anak IM TELKOM memilih untuk menciptakan sendiri acara tsb tanpa menunggu dan menuntut dari kami..
Tgl 13 maret, mereka berhasil menjadikan #tourindonesiaunite jadi trending topics. Sebuah usaha yang menurut gue bukan untuk menarik perhatian dunia, tapi untuk menarik perhatian masyarakat kita sendiri. Mereka bikin kaos untuk mencari dana awal operasional mereka. Kini mereka sudah mulai berjuang. Gue mendoakan yang terbaik untuk mereka.
HARI INI…
Gue sudah melihat matahari terbit di sejumlah kota di Indonesia
Gue sudah mandi dengan air dari banyak kota di Indonesia
Gue sudah bermalam di banyak kota di Indonesia
Cukup untuk tahu, bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, adalah keyakinan bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu di masing masing daerahnya. Dengan itu, rasa sirik karena tidak dibikinin acara akan hilang.
Tanpa harus meminta minta…
Tanpa harus menunggu bala bantuan dari Jakarta
Panji Pragiwaksono
Posted by Ambonbergerak|kalesang at 5:49 AM
Labels: pikiran ambon_bergerak
Share Thursday, March 18, 2010 at 10:22am
Beberapa hari yang lalu, mungkin malah beberapa minggu yang lalu, gue jadi salah seorang peserta presentasi di IGNITE JAKARTA. Sebuah event dimana orang diminta untuk melakukan presentasi, 20 slide, masing masing slide secara otomatis akan maju dalam 15 detik. Jadi total 5 menit.
Its a bit tricky.
Ada beberapa orang yang presentasi, kebanyakan memang gue tidak lihat karena harus pergi untuk siaran, tapi menurut gue dari yang gue liat, yang paling inspiratif adalah presentasi dari @ramyaprajna Rama sebenarnya mungkin ingin menerangkan tentang apa itu IGNITE, tapi bersamaan dengan itu, dia juga cerita alasan kenapa dia dan perusahaannya think.web memutuskan untuk bikin acara itu.
Rama lalu cerita bahwa di dunia ini ada banyak sekali event yang digagas online. Twestival, Pecha Kucha, Ignite adalah beberapa diantaranya. Metodanya, sederhana sekali.Kurang lebihnya DIY atau Do It Yourself. Biasanya untuk setiap event, baik itu Twestival (festival pengguna twitter yg bertujuan amal) ataupun IGNITE ada sebuah situs pusat yang menerangkan
1. Apa acara itu sebenarnya
2. Teknis pelaksanaan acara itu
3. Bagaimana cara membuat acara itu di kota anda
Lalu mereka mempersilahkan apabila si pembaca mau bikin acara tersebut di kotanya masing masing, dengan mendaftarkan kotanya tsb ke situs pusat tadi. Lalu biasanya, di setiap situs situs itu, ada peta dunia dengan titik titik merah sebagai penanda bahwa kota tsb berencana/sudah membuat acara terkait. Twestival, IGNITE, PechaKucha, apapun.
Rama bercerita, bahwa diantara titik titik merah itu, tidak ada titik merah di Indonesia Semua benua ada titik merahnya, kecuali Indonesia. Bahkan, didalam slidenya ada sebuah peta dari situs seperti dimaksud diatas yang TIDAK ADA GAMBAR INDONESIAnya..Rama lalu punya misi kecil yang keren. Memasang sebuah titik merah di Indonesia utk event event tsb.
Tahun lalu, dia membuat Twestival Jakarta di FX dimana uangnya disumbangkan utk Desa Waikokak NTT. Ada Glenn Fredly, Sandhy Sundhoro, Barry Likumahuwa Project, Endah N Rhesa, Bandanaira, gue, dll…Tahun lalu, Indonesia masuk dalam peta twestival dunia.
Tahun ini, dia juga bikin IGNITE di Jakarta, Indonesia dan menambah titik merah dalam peta IGNITE dunia.Tujuannya sederhana, tapi misinya luarbiasa.Tujuan akhirnya adalah menghadirkan eksistensi INDONESIA dalam ajang ajang dunia.Mendekati akhir presentasi Rama, dia bilang, “Harusnya di Indonesia ada beberapa titik. Bukan di Jakarta aja.. Gampang kok”. Keren.
Kebanyakan orang, menunggu dibikinin acara.Tapi sebenarnya, mereka bisa bikin acara sendiri sendiri.Itulah sebenarnya semangat IndonesiaUnite. Semangat menciptakan perubahan.IndonesiaUnite itu bukan organisasi, bukan gerakan.IndonesiaUnite itu hanyalah sebuah semangat untuk menciptakan perubahan yang baik untuk Indonesia.
BERKARYA.TIDAK MENUNTUT, TIDAK MEMINTA.
Susahnya, Indonesia memang rada rada manja.Dibalik kerasnya orang orang demo di jalanan, sebenarnya mereka menunjukkan kemanjaan mereka.Kenapa orang demo dan bahkan anarkis disebut manja? Karena mereka Cuma bisa menuntut perubahan, tanpa mau menciptakan perubahan itu sendiri.
Teriak teriak “HOY PEMERINTAH! WUJUDKANLAH KESEJAHTERAAN UTK RAKYAT”
Padahal, mereka bisa menciptakannya itu sendiri. Kalau mereka mau usaha, mau berpikir, mau kerja keras. Tapi tidak.. mereka ga mau kerja, mereka mau orang lain yang mengerjakan. " Manja "
Kemanjaan itu tidak terasa, tapi ada.Waktu Java Jazz ramai di timeline orang orang di twitter, ada beberapa nada nada sumbang dari kota kota lain “Enak ya Jakarta dibikinin event kayak gitu… kota lain ga pernah… “ "Gue bereaksi kepada mereka dengan menjawab “Ya elo bikin dong sendiri…”
Jawaban mereka “Mana mungkin bisa ?”
Ya jelaslah ga bisa, wong elonya sendiri ga percaya kalau elo bisa.
Ada yang bilang “Mana bisa kita bikin sebesar JJF?”
Jawaban gue “Ya Java Festival Production, yang mengerjakan JJF juga dulunya memulai dari sesuatu yang keciiiiiil”. Jangan tiba tiba ingin bisa bikin event yang besar. Mulailah dari yang kecil. Maunya instan instan aja siiiih… Kalau elo mau bisa bikin event gede, MULAI dari sekarang.
Starting, is everything. Mulai aja dulu.
Elo akan gagal, elo akan belajar, dan kalau elo teguh, elo akan berusaha lagi, dan lagi… Teman gue @mainbasket berujar bahwa kemampuan orang orang di kota kota selain Jakarta tidak sehebat orang orang di Jakarta. Gue menyatakan tidak setuju. Kehebatan itu sangat relatif, mungkin di Jakarta orang orang hebat dalam bikin event Jazz, tapi hidup ini kan tidak hanya event jazz..
Buktinya Bandung bisa bikin festival clothing terbesar di Indonesia KICKS. Jakarta ga ada tuh kayak gitu.Buktinya anak anak di Laskar Pelangi, asli Belitung, beberapa bahkan tidak tahu apa itu bioskop bisa akting jauuuuuh lebih bagus daripada anak anak yang mengaku aktor dan aktris di Jakarta…
Buktinya Surabaya bisa bikin DBL dan DBL adalah satu satunya kompetisi di Indonesia yang didatangi NBA. Sementara DBL itu kelasnya SMA. Karena DBL, Surabaya kini pusatnya basket Indonesia. Tapi ada ucapan @mainbasket yang gue akui kebenarannya. Harusnya orang orang Jakarta (yang sebenarnya pendatang dari kota lain juga) yang sudah berprestasi dan berilmu, pulang ke daerah asalnya dan membangun. Atau setidaknya membagi ilmu. Seperti yang Glenn lakukan dengan pindah ke Ambon dan melihat Indonesia dari timur.
Masalahnyaaa, orang seperti Glenn yang sudah menemukan kemapanan dari muda itu sangat jaraaang. Gue takutnya, orang orang di daerah lain menunggu kedatangan saudaranya yang di Jakarta untuk membantu mereka. Sementara, saudaranya itu tidak datang datang. Dan kalau mereka hanya mengandalkan saudaranya yang di Jakarta, bisa bisa mereka tidak beranjak kemana mana.
Gue sudah keliling Indonesia, Mungkin gue sudah datang ke lebih banyak kota dari pada elo.Ada beberapa kota yang tingkat kelulusannya rendah. Orang setempat menjawab, banyak yang tidak mau melanjutkan kuliah karena menurut mereka, ilmu yang mereka dapatkan dari kuliah, tidak ada gunanya kalau tidak digunakan di Jakarta.
Sementara, mereka tidak punya uang untuk bisa ke Jakarta, atau tidak bisa meninggalkan orangtuanya yang sudah sepuh untuk ke Jakarta. Buat apa kuliah kalau saya hanya akan menghabiskan hidup saya disini.Maka mereka kemudian tidak melanjutkan kuliah. Bayangkan….
ANDAI saja mereka PERCAYA bahwa dengan ilmu mereka , mereka BISA melakukan sesuatu yang penting dan besar di daerah masing masing.ANDAI mereka PERCAYA bahwa mereka BISA berkarya di daerah masing masing.. bisa jadi mereka jadi kembali semangat untuk melanjutkan kuliah.Sesungguhnya, mereka memang bisa.
Tahun lalu ada AMBON JAZZFEST diselenggarakan untuk pertama kalinya.
Dari laporan orang orang yang manggung, katanya acaranya berantakan. Jadwal ga jelas, pembatalan mendadak, mati lampu, dll… Tapi dibalik semua itu, ada sebuah semangat untuk berusaha dan belajar, dan kalau mereka masih tinggi semangatnya, tahun ini mereka akan kembali.
Acungan jempol juga untuk mahasiswa IM TELKOM Bandung yang sempat semangat mengajak gue, Glenn dan Barry untuk menggelar Tour IndonesiaUnite. Sebuah usulan yang muncul dari tweetnya Glenn Fredly. Yang punya ide, entah kenapa tidak pernah ngomongin lagi… sibuk mungkin hehehe. Tapi anak anak IM TELKOM memilih untuk menciptakan sendiri acara tsb tanpa menunggu dan menuntut dari kami..
Tgl 13 maret, mereka berhasil menjadikan #tourindonesiaunite jadi trending topics. Sebuah usaha yang menurut gue bukan untuk menarik perhatian dunia, tapi untuk menarik perhatian masyarakat kita sendiri. Mereka bikin kaos untuk mencari dana awal operasional mereka. Kini mereka sudah mulai berjuang. Gue mendoakan yang terbaik untuk mereka.
HARI INI…
Gue sudah melihat matahari terbit di sejumlah kota di Indonesia
Gue sudah mandi dengan air dari banyak kota di Indonesia
Gue sudah bermalam di banyak kota di Indonesia
Cukup untuk tahu, bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, adalah keyakinan bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu di masing masing daerahnya. Dengan itu, rasa sirik karena tidak dibikinin acara akan hilang.
Tanpa harus meminta minta…
Tanpa harus menunggu bala bantuan dari Jakarta
Panji Pragiwaksono
Posted by Ambonbergerak|kalesang at 5:49 AM
Labels: pikiran ambon_bergerak
Langganan:
Komentar (Atom)

